Lembaga LIPI pun mandul. May 24, 2007
Posted by segerhasani in Berita, Kasus.add a comment
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=286683
Kamis, 24 Mei 2007,
Presiden Kritik Peneliti LIPI
Hasil Riset Tak Bisa Jadi Solusi
JAKARTA – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memprihatinkan banyaknya produk riset yang belum menyentuh kebutuhan publik. Karena itu, dia menantang para peneliti untuk menciptakan produk-produk yang bisa menghasilkan terobosan pemecahan persoalan masyarakat.
“Saya menginginkan para peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia), peneliti berbagai perguruan tinggi, dan lembaga swadaya masyarakat untuk melakukan penelitian guna mengidentifikasi serta memecahkan berbagai persoalan masyarakat,” katanya saat meresmikan gedung baru Herbarium Bogoriense di Cibinong, Bogor, Jawa Barat, kemarin.
Karena itu, para peneliti juga harus sering turun ke masyarakat agar orientasi riset mereka terbangun untuk pemecahan problem di masyarakat. “Saya tunggu terus hasil riset atau penelitiannya,” ujarnya.
Menurut SBY, kemampuan iptek nasional saat ini masih perlu ditingkatkan. Belum banyak hak paten yang didapatkan para peneliti Indonesia. Kontribusi iptek di sektor industri juga belum banyak dirasakan. Selain itu, kata SBY, Indonesia mengalami keterbatasan sumber daya manusia dan budaya iptek belum berkembang di masyarakat.
Di satu sisi, kata SBY, harus diakui, ada pula hasil riset yang ikut membantu menyelesaikan permasalahan bangsa. Indonesia telah mampu menerapkan biologi molekuler dalam mengidentifikasi teroris melalui DNA.
Juga, penyusunan perangkat sistem peringatan dini tsunami yang telah diuji coba di Padang dan sedang dikembangkan untuk daerah-daerah lain. “Kita pun sedang berupaya mengembangkan teknologi untuk menghasilkan bioenergi seperti biodiesel dan minyak jarak,” jelas SBY.
Hadir dalam acara peresmian itu Menristek Kusmayanto Kadiman, Menteri PU Djoko Kirmanto, Wakil Duta Besar Jepang Satoru Sato, serta Kepala LIPI Umar Anggara Jenie.
Dalam sambutannya, Umar Anggara menyatakan, gedung Herbarium Bogoriense merupakan herbarium dengan koleksi terlengkap dan tertua di Asia Tenggara serta nomor tiga terbesar di seluruh dunia. Koleksi herbarium tersebut mencapai dua juta spesimen dan akan mampu menjadi pusat acuan penelitian keragaman hayati serta rujukan bagi seluruh ilmuwan dunia dalam bidang penanaman jenis tumbuhan, khususnya dari kawasan tropis.
Saat peresmian, SBY dan Ani Yudhoyono sempat menanam tumbuhan langka. SBY menanam jambu mawar dan Ani menanam anggrek raksasa. (tom)
“Mroyek” diantara kehidupan dosen dan mahasiswa April 20, 2007
Posted by segerhasani in Kasus, Opini.add a comment
Beberapa minggu terakhir ini saya merenung, memikirkan perkembangan rekan-rekan mahasiswa terutama di kampus TC. Terutama tentang lingkungan kampus yang saya lihat saat ini tidak bagus. Sebenarnya sejak lama pikiran ini menggelayut di otak, tapi tidak menemukan jalan keluar. Ya buntu begitu saja.
Ya, itulah. Saat ini — karena permintaan pasar juga — rasanya dunia kampus telah menjadi dunia profit. Jika di tingkat atas kampus telah menjadi badan usaha, di tingkat menengah, para dosen sibuk mengejar proyek diluar (kadang juga ambil) jam kerja, pun demikian juga dengan mahasiswanya.
Tapi ada juga mahasiswa ideal yang vokal, sampai-sampai ada diskusi terbuka “Dosen mroyek, pantaskah?”. Ya, biasa kalo mahasiswa bilang begitu, masak akan bilang “Mahasiswa mroyek, pantaskah?”. Siapa sih yang mau mengkritik dirinya sendiri?
Ophoria Enterpreneurship
Sebenarnya menurut saya pribadi, mungkin kebanyakan yang ikut-ikutan seperti ini adalah karena terpengaruh ophoria enterpreneur. Ya, sebisa mungkin kita harus jadi kaya apakah itu jadi karyawan, dosen atau profesi non wiraswasta. Seperti tulisannya bung Safir Senduk.
Tapi akibatnya, orang kehilangan jati dirinya sebagai pendidik, sebagai pelajar, atau sebagai pemimpin. Semua berkeinginan ‘sukses’ dalam arti sempit (baca: kaya raya). Pun mungkin termasuk mahasiswanya, di awal-awal kuliah juga sudah berniat jadi orang sukses (kaya). Akhirnya kalau ada kesempatan ya ikut mroyek juga. Siapa sih yang tak butuh duit? Saya sendiri pun mungkin kalo dulu punya kesempatan juga ikut-ikutan. Untungya dulu gak kebagian proyek…
Nah, sekarang ini kayaknya lumayan parah. Sampai-sampai tidak terasa adanya hawa kampus yang mengedepankan ilmiah, studi atau keilmuan. Pas saya datang ke kampus mau ketemu rekan-rekan mahasiwa untuk membahas rencana kelompok studi, eh, dianggap mroyek juga
Jika hal ini dibiarkan terus-menerus, maka 4-10 tahun lagi tidak akan muncul generasi atau tenaga ahli. Jangankan 4 tahun lagi, sekarang saja banyak tenaga ahli yang hanya memikirkan bisnis. Semua diukur dari bisnis (profit). Ya, akhirnya kualitas dam produktivitas menjadi menurun… Kampus tidak lagi bisa menciptakan tenaga ahli yang betul-betul profesional dan membanggakan di bidangnya. Tidak ada atau sedikit saja suara-suara hasil karya mahasiswa yang mengharumkan nama jurusan atau kampus.
Kelompok Studi
Kembali kepada laptop, akhirnya saya dan beberapa temen mahasiswa mau merencanakan kelompok studi. Saya sendiri tidak perduli profesi saya apa di kampus, yang penting, dalam kondisi saat ini saya bisa dan akan saya lakukan.
Ya tidak muluk-muluk sih, saya ingin beberapa yang masih memiliki idealisme bidang prestasi akademik saya kumpulkan. Dan mudah-mudahan, ada temen lagi yang mau tertarik untuk bergabung. Setelah itu, kita mencoba saling melatih diri masing-masing untuk tidak sekedar ikut-ikutan dalam arus mroyek-mroyekan. Harus kembali mengenali jati diri mereka sebagai pelajar dan yang seharusnya belajar. Yang kemudian diharapkan tenaga dan fikiran mereka bisa bermanfaat dalam membantu bangsa ini di kemudian hari.
Semoga Allah meridloi sedikit langkah ini. Amiin.