jump to navigation

Dedikasi, Integritas & Reputasi November 16, 2009

Posted by segerhasani in Berita, Ide & Inovasi, Makna Dasar.
Tags: , ,
add a comment

Tiga kata ini sangat penting dalam kehidupan Anda. Milikilah ketiga kata tersebut dan jadilah Anda insan yang sempurna di muka bumi.

Membangun Attitude April 18, 2007

Posted by segerhasani in Makna Dasar, Opini.
add a comment

Attitude, dalam bahasa Inggris — setau saya — berarti tingkah laku. Attitude lebih banyak dimaknai sebagai sifat atau karakter profesionalisme dalam mengemban tugas atau kewajiban. Lain dengan implementasi yang diajarkan oleh lembaga pendidikan kepribadian yang sering menonjolkan sikap berperilaku atau norma yang normatif dalam bergaul, attitude lebih menekankan ke dalam jiwa atau hati nurani dalam menjalankan segala perilaku yang berhubungan dengan tugas tersebut.

Attitude erat sekali hubungannya dengan status atau profesi. Seseorang yang bersikap sopan santun, belum tentu memiliki attitude bagus jika prestasi kerjanya buruk. Sebaliknya, seseorang yang memiliki atttitude tinggi, belum tentu juga memiliki sikap yang santun. Sikap attitude lebih tampak dalam sikap mempertanggungjawabkan atau menjunjung tinggi nilai-nilai profesionalisme. Orang yang memiliki attitude tinggi sangat memperhatikan tindakan-tindakan untuk menjaga tanggung jawab profesinya, tidak saja dengan cara yang benar, tapi juga niat yang benar. Selain itu senantiasa bekerja dan berkarya dengan hati nurani, dengan kecintaan yang tinggi pada profesinya, serta tanggung jawab yang besar akan hasil dan pengaruhnya kepada masyarakat.

Rendahnya kualitas attitude akan menyebabkan rendah pula kualitas kinerja dan prestasi. Sehingga menjadikan hasil pekerjaan menjadi tidak optimal.

Pentingnya Attitude

Untuk membangun sebuah bangsa yang beradab dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas.  Saya kira banyak sekali contoh hancurnya perusahaan, lembaga pemerintah, pendidikan dan lain-lain karean sebab rendahnya kualitas SDM. Artinya, memiliki attitude yang masih rendah.

Kasus-kasus KKN atau berbagai penyimpangan yang terjadi di masyarakat, adalah sebuah contoh jelas akan rendahnya kualitas attitude sumber daya manusia. Dan, jika ditengok secara lebih teliti, rendahnya attitude ini tidak saja terjadi dalam bidang pemerintahan dan bisnis, bidang pendidikan, yang memegang peranan penting dalam mengembangkan dan menjaga attitude generasi bangsa, juga tidak terhindar dari “penyakit” ini.

Umumnya, dan yang paling banyak terjadi, penyimpangan-penyimpangan yang disebabkan oleh rendahnya attitude ini bersumber dari masalah materi. Sehingga hampir semua bidang profesi di masyarakat memiliki ukuran kesuksesan yang identik, yaitu seberapa besar materi yang berhasil dikumpulkan, atau seberapa tinggi kedudukan yang berhasil diraih.

Sehingga terjadilah ketidakseimbangan ekosistem sosial ekonomi dalam kehidupan. Karena beragam profesi memiliki tujuan yang sama. Akhirnya, peran-peran yang mestinya berada pada batasan tertentu, kini tak beraturan lagi. Yang akhirnya, tugas yang sebenarnya menjadi tidak optimal dan menjadi instan, jauh dari yang diharapkan.

Ada beberapa contoh kasus, dan hal ini saya yakin banyak ditemukan di masyarakat, dimana logika-logika yang telah berkembang sungguh diluar kamus. Gara-gara rendah attitude. Wajarnya, ketika ditawari produk seseorang akan menawar dengan harga terendah. Ini sebaliknya, mereka ingin membeli dengan harga yang lebih tinggi. Sehingga, pernah suatu ketika ketika seseorang memberi saya anggaran 10 juta untuk beli komputer, ya, saya belikan tiga biji. Ternyata, mereka menginginkan dua.

Ada banyak lagi yang seperti ini, kalau proyeknya tidak mahal malah tidak disetujui. Mencari pekerjaan bukan karena keahlian, yang terpenting adalah koneksi. Menjadi pengacara, bukan karena berkesempatan membela kebenaran, tapi lebih cepat meraih sukses (kaya). Dan ini saya yakin sudah terbiasa di telinga kita, juga orang tua kita barangkali.

Tulisan ini tidak bertujuan untuk mengulas seberapa jauh penyimpangan-penyimpanan tersebut telah terjadi di masyarakat. Beberapa kasus di atas adalah sekedar contoh kasus bahwa rendahnya attitude, dapat merusak sistem kewajaran hidup bermasyarakat, sirkulasi kehidupan menjadi tidak seimbang. Yang semula masuk akal menjadi aneh, dan yang semula nista menjadi wajar-wajar saja.

Walaupun logika-logika di atas sepertinya sudah membiasa, tapi menurut saya merupakan kondisi yang sangat tidak wajar (baca: masyarakat sedang sakit) .

Seperti contoh, orang yang kaya memang sewajarnya adalah pengusaha, sehingga kekayaannya bisa digunakan untuk menciptakan lapangan pekerjaan atau investasi mengembangkan potensi sumber daya alam Indonesia. Tapi yang terjadi, kekayaan ternyata banyak terkumpul juga di pejabat atau pengacara. Akhirnya larinya paling banyak ya beli mobil mewah atau rumah megah. Karena memang tidak ada kemampuan di bidang bisnis. Akhirnya tercipta orang-orang kaya yang tidak bisa mengkayakan orang lain.

Bahkan paradigma kesuksesan yang telah berkembang di masyarakat (juga pendidikan) adalah bagaimana bisa mencapai kedudukan dan materi di puncak. Contoh kecilnya adalah mendapatkan juara (rangking) pertama. Tapi sangat tidak mungkin karena yang bisa mencapai hanya bagi mereka yang cerdas, dan tidak mungkin semua siswa bisa berkesempatan memperolehnya.

Itu semua sebenarnya tidak pada tempatnya. Segala hal yang tidak memiliki keadilan bagi semua pihak untuk berprestasi adalah ketidakwajaran. Seorang gubernur boleh diberikan piala karena kepemimpinannya, tapi tukang koran juga boleh jika dia berhasil melayani pembaca di pagi hari. Yang cerdas boleh mendapat penghargaan karena prestasinya, tapi yang kurang mampu juga butuh perhatian jika memiliki semangat tinggi. Seorang pengusaha boleh terhormat karena bisa mengentas kemiskinan, tapi si pemulung sekali waktu juga perlu dihormati karena mengurangi limbah sampah.

Jika segala posisi di masyarakat kita hargai sebagai suatu peran yang memang mutlak dibutuhkan, tentu kita tidak berbondong-bondong ingin menjadi orang kaya semua. Dan itu semua harus dibangun dengan attitude. Karena attitude bisa dimiliki dan diraih oleh semua orang, tidak pandang status sosial dan ekonomi. Jika prestasi seseorang dinilai dengan seberapa besar attitudenya, maka saya yakin tidak saja bangsa Indonesia akan cepat keluar dari krisis, tapi juga dapat melesat jauh melebihi negara-negara berkembang lainnya.

Attitude pemimpin adalah menjaga dan mencintai rakyat. Attitude pengusaha dan ekonom adalah menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Attitude pendidik adalah menciptakan generasi berkualitas. Attitude teknolog(krat) adalah menciptakan teknologi yang bermanfaat. Attitude pelajar adalah menemukan potensi diri dan menyaring ilmu pengetahuan seoptimal mungkin (bukan harus menjadi ranking). Attitude pejabat adalah mengemban amanah rakyat sebaik-baiknya. Dan attitude karyawan adalah bekerja sebaik mungkin untuk pengembangan perusahaannya.

Jika kombinasi attittude ini digabung, Insya Allah akan menciptakan prestasi komulatif yang luar biasa. 1000%.

Baca juga : Attitude, how important.

Peran semestinya tenaga IT dalam mengurangi korupsi April 18, 2007

Posted by segerhasani in Makna Dasar, Opini.
add a comment

Kita tahu semua deh, bahwa korupsi di Indonesia sudah mendarah daging. Tidak saja menjadi kebiasaan (buruk), tapi juga menjadi budaya. Sehingga batas-batas antara korupsi dan tidak korupsi menjadi semakin samar. Sesuatu yang biasa (karena sudah menjadi budaya), akhirnya dianggap wajar walaupun itu sebenarnya praktik korupsi.

Hal ini saya kira juga terjadi di kalangan konsultan atau perusahaan IT terutama yang sering menjalin kerjasama dengan instansi pemerintah atau BUMN. Yang sebenarnya memiliki peran besar juga dalam menyuburkan praktik korupsi. Namun, karena tidak menjadi pelaku langsung dan seolah-olah berlaku wajar, maka secara hukum memang tidak bisa dianggap korupsi. Apalagi tidak tampak adanya unsur memperkaya pribadi atau orang lain dan juga unsur merugikan negara.

Namun, jika saya meneliti lebih lanjut mengenai praktik tersebut, saya masih melihat sebenarnya masih ada unsur korupsi juga di dalamnya. Baik aspek memperkaya pribadi atau orang lain, maupun merugikan negara. Seperti tuduhan korupsi yang sering saya dengar.

Kalau saya sering membaca dan mendengar dari teman-teman, sebenarnya semua sudah pada tahu sama tahu (TST) bagaimana proses tender proyek IT di kalangan pemerintah atau BUMN masih sarat ketidakwajaran. Beberapa indikasi tersebut antara lain :

1. Tidak adanya ketetapan pasti harga aplikasi/software.

Seberapa canggih atau sederhana proyek tersebut, tidak ada standar pasti berapa batasan atau ketentuan nilainya. Akhirnya muncullah nominal yang aneh-aneh, bahkan tidak masuk akal. Seperti kasus pembuatan website sederhana tapi membutuhkan anggaran sampai 2 miliar. Itu yang terlalu ekstrim. Masih banyak sekali praktik-praktik lainnya seperti pembuatan WebGis, simda, simpeg, dan apapun nama-nama aneh lainnya yang nilai proyeknya beragam dari mulai yang ratusan sampai miliaran. Tapi sampai saat ini rasanya belum ada aturan atau pihak yang kompeten yang bisa mengatur atau membatasi bahwa output yang dihasilkan harus sebesar nilai proyeknya.

Akhirnya ini menjadi medan permainan antara pihak konsultan dengan aparat. Kondisi dimana akan memungkinkannya praktek memperkaya diri atau orang lain, dan juga merugikan negara, karena nilai proyeknya sebenarnya bisa tidak sebesar itu. Apalagi jika studi kelayakan bisa membuktikan bahwa aplikasi tersebut tidak layak, maka nilai kerugian negara tidak saja dari selisih mark up tersebut, namun secara keseluruhan nilai proyeknya. Hmm.. gila.

2. Ada ketentuan tidak tertulis, bahwa ada nilai minimal proyek, tak perduli seberapa layak proyeknya.

Saya pernah datang ke suatu instansi menawarkan sebuah program. Saya hargai ‘sangat murah’, cuman Rp 30 juta. Tapi anehnya, justru mintanya dimaksimalkan saja sampai Rp 50 juta. Ini tentu sesuatu yang diluar kewajaran sistem jual beli. Dimana mestinya yang membeli harus menawar dengan harga yang lebih rendah, bukan yang lebih tinggi. Dan hal ini saya yakin tidak terjadi pada saat itu, satu atau dua kali saja. Apalagi yang sehari-hari bermitra dengan aparat pemerintah. Dan nilainya tentu tidak sekecil itu.

Ada semacam ketentuan tak tertulis, bahwa proyek GIS itu harus miliaran. Proyek simda, simpeg atau sejenisnya itu harus ratusan juta, dan ada lagi proyek tanpa pengajuan ke pusat itu maksimal Rp 50 juta, maka jika ada yang lebih kecil dari itu ya dimaksimalkan sekalian.

Nah, ini tentu logika yang keblinger. Dimana nilai proyek tidak didasari atas inovasi atau kualitas produk, tapi atas azas kebiasaan, presepsi atau mungkin sudah aturannya. Apapun aturannya sebenarnya hal ini tidak betul, apalagi jika didasari hanya karena kebiasaan atau presepsi. Karena akan menimbulkan ketimpangan, dimana pihak aparat maupun konsultan hanya akan bicara nilai proyeknya, tak memperdulikan kualitas atau inovasi produk yang ada di dalamnya. Walhasil, hasilnya pun tidak optimal. Karena yang dibahas (uangnya) sudah beres, misalnya proyeknya sudah selesai, ngapain membicarakan kualitas.

Akhirnya banyak proyek-proyek terlantar, tak terpakai. Lalu lagi-lagi rugilah uang negara, uang rakyat.

3. Penawaran biaya rendah belum tentu menang

Saya suatu ketika, juga pernah mencoba ikut tender pengadaan di suatu instansi. Saya merasa jika saya menawarkan harga yang lebih rendah dengan kualitas lebih bagus, pasti akan menang. Tapi ternyata tak seperti itu realitasnya. Justru yang lebih mahal malah diterima.

Inilah yang sangat mengkhawatirkan jika kebiasaan ini tetap dipertahankan. Seperti poin nomor 2, praktek ini juga merupakan sistem jual beli yang tidak wajar. Sesuatu yang tidak wajar, tentu ada sesuatu di baliknya.

Jika sesuatu tersebut ternyata dimanfaatkan oleh aparat sebagai medan memperkaya diri. Tentunya, ini jelas merupakan praktek korupsi. Karena juga akan merugikan negara. Namun, lagi-lagi karena ukuran tender tersebut kurang jelas, akhirnya sistem seperti ini juga tetap berjalan.

Usul Bagi Pemerintah

Solusi efektif bagi pihak pemerintah tentunya adalah sebisa mungkin memperkecil atau mengikis kebiasaan-kebiasaan di atas. Aturan-aturan pengadaan atau proyek pengembangan aplikasi yang lebih bagus, sehingga memperkecil kesempatan siapapun untuk mempermainkan uang negara.

Beberapa contoh langkah yang bisa dilakukan misalnya :

1. Tender terbuka atau procurement.

Di dalam tender terbuka tersebut, tentunya harus diusahakan semaksimal mungkin tidak ada permainan di dalamnya. Misalnya tendernya sudah terbuka, tapi sosialisasinya tertutup atau terbatas. Tendernya terbuka, tapi persyaratannya rumit. Tendernya sudah ok, tapi seleksinya tidak objektif. Jika seperti ini, maka hasilnya juga sama saja tidak menyelesaikan masalah. Publik harus semaksimal mungkin mengetahui semua proses tersebut.

2. Kompetisi / lomba terbuka.

Ini mungkin langkah sederhana tapi sayangnya jarang dilakukan oleh pihak pemerintah. Rasanya belom pernah ada lomba pembuatan website atau proyek pengembangan sistem tertentu yang dibuka ke publik masyarakat. Semua didominasi oleh konsultan-konsultan tententu yang punya koneksi dekat dengan aparat. Walhasil, ya yang dekat dengan linkungan aparat saja yang memiliki kesempatan, walaupun bisa jadi kualitasnya masih kalah dengan yang lain.

3. Join ke komunitas IT

Mungkin ada baiknya pihak aparat mencoba join atau bergabung dengan komunitas IT di wilayahnya. Saat ini di wilayah masing-masing kota rasanya pasti ada kelompok komunitas IT yang saya kira lebih objektif dalam memikirkan perkembangan IT di daerahnya. Atau mengambil sumber daya yang berasal dari komunitas IT.

Dengan bergabung dengan komunitas IT, biasanya akan terjadi saling kontrol dan mengingatkan satu sama lain dengan minim tendensi. Sehingga diharapkan bisa memajukan IT secara lebih objektif pula, yang pada akhirnya juga bisa mengurangi praktek-praktek atau budaya korupsi seperti di atas.

Peran Tenaga Konsultan IT

Disamping peran pemerintah dan masyarakat, tentunya yang tidak bisa dianggap kecil adalah peran tenaga konsultan IT itu sendiri. Jika dalam perkuliahan atau lingkungan kerja kita jarang memikirkan hal-hal seperti di atas, mungkin saat ini kita harus segera memulainya.

Memang ada sedikit dilematika ketika kita berhadapan langsung dengan kondisi seperti ini. Di lain pihak, kita ingin memajukan perusahaan kita, yang tentunya membutuhkan arus kas yang lancar. Sehingga sudah sewajarnya kita harus mendapatkan proyek-proyek untuk memutar roda bisnis perusahaan. Tapi dengan ikut serta mengikuti arus budaya korupsi (walau tidak secara langsung ikut korupsi) seperti di atas, maka roda budaya tersebut juga akan terus berputar. Tak tahu kapan berhentinya.

Ada kalanya juga kita akan terjebak dalam arus tersebut. Ketika sebenarnya arus kas kita sudah lancar, karyawan sudah sejahtera, penghasilan cukup, tapi karena sudah sehari-hari kita bekerja seperti itu, maka kita sulit mencari alternatif lainnya. Kita sudah profesional dengan lingkungan kerja, dengan model style ‘proyek subyektif’ seperti itu. Maka untuk berinovasi, beralih style menjadi yang profesional dan objektif adalah pekerjaan yang akan sangat sulit. Akhirnya kita terpaksa tetap terus di dalamnya.

Terkecuali, dari pihak pemerintah atau konsultan IT sendiri melakukan gerakan bersama dan dengan niat dan tekad yang besar, semua hambatan tentu bisa dilewati.

Yang paling memungkinkan, yang lebih bertanggungjawab dan yang lebih mudah dalam menanamkan jiwa anti korupsi sebenarnya adalah dunia pendidikan . Dimana perguruan tinggi yang menciptakan konsultan-konsultan khususnya IT, harus segera memperhatikan hal ini. Pendidikan seharusnya tidak saja berkonsentrasi meningkatkan skill dan pengetahuan sarjana dalam bidang IT, tapi juga pendidikan mental bekerja dan pengabdian di profesinya.

Budaya-budaya korupsi adalah ditimbulkan dari kesalahan teori kesuksesan. Dimana kesuksesan yang senantiasa diukur dengan materi, banyaknya uang atau prestise yang kita terima. Penghasilan (gaji) tinggi, perusahaan kaya raya, atau kedudukan prestise di perusahaan-perusahaan besar. Semua itu menimbulkan banyaknya sarjana IT yang tidak mengerti arti pengabdian. Pengabdian kepada bangsa/ummat, pengabdian kepada profesinya. Kita mengedepankan prestise, tapi menterlantarkan prestasi.

Dengan hanya mengejar prestise, banyak dari kita yang melupakan bagaimana harus menciptakan sesuatu yang bermanfaat. Kita merencanakan, memprogram, membuat, atau menciptakan sesuatu yang hanya bertujuan menghasilkan uang, atau meningkatkan jabatan, tapi tidak perlu harus bermanfaat. Yang penting SELESAI, tidak harus BERGUNA.

Padahal dari kecil (orang tua) kita selalu bercita-cita agar bisa menjadi manusia yang BERGUNA bagi nusa, bangsa, dan agama.

The Attitude, what the importance April 18, 2007

Posted by segerhasani in Makna Dasar, Tulisan External.
add a comment

It’s not my writing. I was forgot from where I got this.

=================== ====================

Harvard and Stanford Universities have reported that 85% the reason a person gets a job and gets ahead in that job is due to attitude; and only 15% is because of technical or specific skills. Interesting, isn’t it?

You spent how much money on your education? And you spent how much money on building your positive attitude? That hurts. Now here’s an interesting thought. With the “right” attitude, you can and will develop the necessary skills. So where’s your emphasis? Skill building? Attitude building?

Unfortunately, “Neither” is the real answer for many people. Perhaps if more people knew how simple it is to develop and maintain a positive attitude they would invest more time doing so. So here we go.

Five steps to staying positive in a negative world:

1.Understand that failure is an event, it is not a person. Yesterday ended last night; today is a brand new day, and it is yours. You were born to win, but to be a winner you must plan to win, prepare to win, and then you can expect to win.

2. Become a lifetime student. Learn just one new word every day and in five years you will be able to talk with just about anybody about anything. When your vocabulary improves, your I.Q. goes up 100% of the time, according to Georgetown Medical School.

3. Read something informational or inspirational every day. Reading for 20 minutes at just 240 words per minute will enable you to read 20 (200-page) books each year. That is 18 more than the average person reads! What anenormous competitive advantage . . . if you’ll just read for 20 minutes a day.

4. The University of Southern California reveals that you can acquire the equivalent of two years of a college education in three years just by listening to motivational and educational cassettes on the way to your job and again on the way home. What could be easier?

5. Start the day and end the day with positive inputs in your mind. Inspirational messages cause the brain to flood with dopamine and norepinephrine, the energizing neurotransmitters; with endorphins, the endurance neurotransmitters; and with serotonin, the feel-good-about-yourself neurotransmitter. Begin and end the day by reading or doing something positive!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.