jump to navigation

Membangun Attitude April 18, 2007

Posted by segerhasani in Makna Dasar, Opini.
trackback

Attitude, dalam bahasa Inggris — setau saya — berarti tingkah laku. Attitude lebih banyak dimaknai sebagai sifat atau karakter profesionalisme dalam mengemban tugas atau kewajiban. Lain dengan implementasi yang diajarkan oleh lembaga pendidikan kepribadian yang sering menonjolkan sikap berperilaku atau norma yang normatif dalam bergaul, attitude lebih menekankan ke dalam jiwa atau hati nurani dalam menjalankan segala perilaku yang berhubungan dengan tugas tersebut.

Attitude erat sekali hubungannya dengan status atau profesi. Seseorang yang bersikap sopan santun, belum tentu memiliki attitude bagus jika prestasi kerjanya buruk. Sebaliknya, seseorang yang memiliki atttitude tinggi, belum tentu juga memiliki sikap yang santun. Sikap attitude lebih tampak dalam sikap mempertanggungjawabkan atau menjunjung tinggi nilai-nilai profesionalisme. Orang yang memiliki attitude tinggi sangat memperhatikan tindakan-tindakan untuk menjaga tanggung jawab profesinya, tidak saja dengan cara yang benar, tapi juga niat yang benar. Selain itu senantiasa bekerja dan berkarya dengan hati nurani, dengan kecintaan yang tinggi pada profesinya, serta tanggung jawab yang besar akan hasil dan pengaruhnya kepada masyarakat.

Rendahnya kualitas attitude akan menyebabkan rendah pula kualitas kinerja dan prestasi. Sehingga menjadikan hasil pekerjaan menjadi tidak optimal.

Pentingnya Attitude

Untuk membangun sebuah bangsa yang beradab dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas.  Saya kira banyak sekali contoh hancurnya perusahaan, lembaga pemerintah, pendidikan dan lain-lain karean sebab rendahnya kualitas SDM. Artinya, memiliki attitude yang masih rendah.

Kasus-kasus KKN atau berbagai penyimpangan yang terjadi di masyarakat, adalah sebuah contoh jelas akan rendahnya kualitas attitude sumber daya manusia. Dan, jika ditengok secara lebih teliti, rendahnya attitude ini tidak saja terjadi dalam bidang pemerintahan dan bisnis, bidang pendidikan, yang memegang peranan penting dalam mengembangkan dan menjaga attitude generasi bangsa, juga tidak terhindar dari “penyakit” ini.

Umumnya, dan yang paling banyak terjadi, penyimpangan-penyimpangan yang disebabkan oleh rendahnya attitude ini bersumber dari masalah materi. Sehingga hampir semua bidang profesi di masyarakat memiliki ukuran kesuksesan yang identik, yaitu seberapa besar materi yang berhasil dikumpulkan, atau seberapa tinggi kedudukan yang berhasil diraih.

Sehingga terjadilah ketidakseimbangan ekosistem sosial ekonomi dalam kehidupan. Karena beragam profesi memiliki tujuan yang sama. Akhirnya, peran-peran yang mestinya berada pada batasan tertentu, kini tak beraturan lagi. Yang akhirnya, tugas yang sebenarnya menjadi tidak optimal dan menjadi instan, jauh dari yang diharapkan.

Ada beberapa contoh kasus, dan hal ini saya yakin banyak ditemukan di masyarakat, dimana logika-logika yang telah berkembang sungguh diluar kamus. Gara-gara rendah attitude. Wajarnya, ketika ditawari produk seseorang akan menawar dengan harga terendah. Ini sebaliknya, mereka ingin membeli dengan harga yang lebih tinggi. Sehingga, pernah suatu ketika ketika seseorang memberi saya anggaran 10 juta untuk beli komputer, ya, saya belikan tiga biji. Ternyata, mereka menginginkan dua.

Ada banyak lagi yang seperti ini, kalau proyeknya tidak mahal malah tidak disetujui. Mencari pekerjaan bukan karena keahlian, yang terpenting adalah koneksi. Menjadi pengacara, bukan karena berkesempatan membela kebenaran, tapi lebih cepat meraih sukses (kaya). Dan ini saya yakin sudah terbiasa di telinga kita, juga orang tua kita barangkali.

Tulisan ini tidak bertujuan untuk mengulas seberapa jauh penyimpangan-penyimpanan tersebut telah terjadi di masyarakat. Beberapa kasus di atas adalah sekedar contoh kasus bahwa rendahnya attitude, dapat merusak sistem kewajaran hidup bermasyarakat, sirkulasi kehidupan menjadi tidak seimbang. Yang semula masuk akal menjadi aneh, dan yang semula nista menjadi wajar-wajar saja.

Walaupun logika-logika di atas sepertinya sudah membiasa, tapi menurut saya merupakan kondisi yang sangat tidak wajar (baca: masyarakat sedang sakit) .

Seperti contoh, orang yang kaya memang sewajarnya adalah pengusaha, sehingga kekayaannya bisa digunakan untuk menciptakan lapangan pekerjaan atau investasi mengembangkan potensi sumber daya alam Indonesia. Tapi yang terjadi, kekayaan ternyata banyak terkumpul juga di pejabat atau pengacara. Akhirnya larinya paling banyak ya beli mobil mewah atau rumah megah. Karena memang tidak ada kemampuan di bidang bisnis. Akhirnya tercipta orang-orang kaya yang tidak bisa mengkayakan orang lain.

Bahkan paradigma kesuksesan yang telah berkembang di masyarakat (juga pendidikan) adalah bagaimana bisa mencapai kedudukan dan materi di puncak. Contoh kecilnya adalah mendapatkan juara (rangking) pertama. Tapi sangat tidak mungkin karena yang bisa mencapai hanya bagi mereka yang cerdas, dan tidak mungkin semua siswa bisa berkesempatan memperolehnya.

Itu semua sebenarnya tidak pada tempatnya. Segala hal yang tidak memiliki keadilan bagi semua pihak untuk berprestasi adalah ketidakwajaran. Seorang gubernur boleh diberikan piala karena kepemimpinannya, tapi tukang koran juga boleh jika dia berhasil melayani pembaca di pagi hari. Yang cerdas boleh mendapat penghargaan karena prestasinya, tapi yang kurang mampu juga butuh perhatian jika memiliki semangat tinggi. Seorang pengusaha boleh terhormat karena bisa mengentas kemiskinan, tapi si pemulung sekali waktu juga perlu dihormati karena mengurangi limbah sampah.

Jika segala posisi di masyarakat kita hargai sebagai suatu peran yang memang mutlak dibutuhkan, tentu kita tidak berbondong-bondong ingin menjadi orang kaya semua. Dan itu semua harus dibangun dengan attitude. Karena attitude bisa dimiliki dan diraih oleh semua orang, tidak pandang status sosial dan ekonomi. Jika prestasi seseorang dinilai dengan seberapa besar attitudenya, maka saya yakin tidak saja bangsa Indonesia akan cepat keluar dari krisis, tapi juga dapat melesat jauh melebihi negara-negara berkembang lainnya.

Attitude pemimpin adalah menjaga dan mencintai rakyat. Attitude pengusaha dan ekonom adalah menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Attitude pendidik adalah menciptakan generasi berkualitas. Attitude teknolog(krat) adalah menciptakan teknologi yang bermanfaat. Attitude pelajar adalah menemukan potensi diri dan menyaring ilmu pengetahuan seoptimal mungkin (bukan harus menjadi ranking). Attitude pejabat adalah mengemban amanah rakyat sebaik-baiknya. Dan attitude karyawan adalah bekerja sebaik mungkin untuk pengembangan perusahaannya.

Jika kombinasi attittude ini digabung, Insya Allah akan menciptakan prestasi komulatif yang luar biasa. 1000%.

Baca juga : Attitude, how important.

Comments»

1. Ardiani Arum Puspito Ratri - August 9, 2015

bagus banget isi artikelnya


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: