jump to navigation

“Mroyek” diantara kehidupan dosen dan mahasiswa April 20, 2007

Posted by segerhasani in Kasus, Opini.
trackback

Beberapa minggu terakhir ini saya merenung, memikirkan perkembangan rekan-rekan mahasiswa terutama di kampus TC. Terutama tentang lingkungan kampus yang saya lihat saat ini tidak bagus. Sebenarnya sejak lama pikiran ini menggelayut di otak, tapi tidak menemukan jalan keluar. Ya buntu begitu saja.

Ya, itulah. Saat ini — karena permintaan pasar juga — rasanya dunia kampus telah menjadi dunia profit. Jika di tingkat atas kampus telah menjadi badan usaha, di tingkat menengah, para dosen sibuk mengejar proyek diluar (kadang juga ambil) jam kerja, pun demikian juga dengan mahasiswanya.

Tapi ada juga mahasiswa ideal yang vokal, sampai-sampai ada diskusi terbuka “Dosen mroyek, pantaskah?”. Ya, biasa kalo mahasiswa bilang begitu, masak akan bilang “Mahasiswa mroyek, pantaskah?”. Siapa sih yang mau mengkritik dirinya sendiri?

Ophoria Enterpreneurship

Sebenarnya menurut saya pribadi, mungkin kebanyakan yang ikut-ikutan seperti ini adalah karena terpengaruh ophoria enterpreneur. Ya, sebisa mungkin kita harus jadi kaya apakah itu jadi karyawan, dosen atau profesi non wiraswasta. Seperti tulisannya bung Safir Senduk.

Tapi akibatnya, orang kehilangan jati dirinya sebagai pendidik, sebagai pelajar, atau sebagai pemimpin. Semua berkeinginan ‘sukses’ dalam arti sempit (baca: kaya raya). Pun mungkin termasuk mahasiswanya, di awal-awal kuliah juga sudah berniat jadi orang sukses (kaya). Akhirnya kalau ada kesempatan ya ikut mroyek juga. Siapa sih yang tak butuh duit? Saya sendiri pun mungkin kalo dulu punya kesempatan juga ikut-ikutan. Untungya dulu gak kebagian proyek…

Nah, sekarang ini kayaknya lumayan parah. Sampai-sampai tidak terasa adanya hawa kampus yang mengedepankan ilmiah, studi atau keilmuan. Pas saya datang ke kampus mau ketemu rekan-rekan mahasiwa untuk membahas rencana kelompok studi, eh, dianggap mroyek juga😀

Jika hal ini dibiarkan terus-menerus, maka 4-10 tahun lagi tidak akan muncul generasi atau tenaga ahli. Jangankan 4 tahun lagi, sekarang saja banyak tenaga ahli yang hanya memikirkan bisnis. Semua diukur dari bisnis (profit). Ya, akhirnya kualitas dam produktivitas menjadi menurun… Kampus tidak lagi bisa menciptakan tenaga ahli yang betul-betul profesional dan membanggakan di bidangnya. Tidak ada atau sedikit saja suara-suara hasil karya mahasiswa yang mengharumkan nama jurusan atau kampus.

Kelompok Studi

Kembali kepada laptop, akhirnya saya dan beberapa temen mahasiswa mau merencanakan kelompok studi. Saya sendiri tidak perduli profesi saya apa di kampus, yang penting, dalam kondisi saat ini saya bisa dan akan saya lakukan.

Ya tidak muluk-muluk sih, saya ingin beberapa yang masih memiliki idealisme bidang prestasi akademik saya kumpulkan. Dan mudah-mudahan, ada temen lagi yang mau tertarik untuk bergabung. Setelah itu, kita mencoba saling melatih diri masing-masing untuk tidak sekedar ikut-ikutan dalam arus mroyek-mroyekan. Harus kembali mengenali jati diri mereka sebagai pelajar dan yang seharusnya belajar. Yang kemudian diharapkan tenaga dan fikiran mereka bisa bermanfaat dalam membantu bangsa ini di kemudian hari.

Semoga Allah meridloi sedikit langkah ini. Amiin.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: